Bisa! itulah hasil temuan kami dari riset dampak program literasi finansial Generasi Merdeka di Pesantren Darul Ulum, Tanggerang bulan lalu. Setelah berdiskusi dengan peserta, guru-guru pendamping, tim riset mendapati bahwa murid-murid yang sebelumnya belum merencanakan keuangan mereka secara sadar - menjadi merencanakan keuangan dengan tujuan.
Apa yang terjadi? Apa yang dilakukan oleh Generasi Merdeka hingga bisa mendorong perubahan dalam keuangan di murid-murid MA Darul Ulum?
Jika kamu membayangkan pembelajaran literasi finansial sebagai sesi ceramah panjang, penuh teori, slide demi slide, maka perkiraan itu hampir pasti keliru.
Dalam pembelajaran berbasis proyek yang dilakukan oleh tim Generasi Merdeka, justru yang paling sedikit adalah informasi satu arah. Yang paling banyak adalah cerita nyata, riset mendalam, dan pengalaman langsung di luar kelas.
Sejak awal, murid tidak diposisikan sebagai pendengar pasif, melainkan sebagai peneliti muda yang diajak memahami realitas keuangan dari berbagai sudut.
Hari pertama dimulai bukan di dalam kelas, tetapi di lapangan pesantren. Ice breaking dilakukan dengan permainan yang membuat murid bergerak, tertawa, dan—tanpa mereka sadari—mulai membangun kedekatan: BINGO!
Bingo yang dilakukan mereka harus mencari teman yang memiliki karakteristik tersebut dan meminta tanda tangannya, seperti teman yang hafal 3 Juz, teman yang tau apa itu bitcoin, teman yang paling suka ngutang di kantin.
Suasana cair. Sekat antara “belajar” dan “bermain” sengaja dilebur.
Setelah sesi ice breaking selesai, murid-murid diajak berkelompok dan berpindah.
Bukan ke satu ruang kelas, tetapi ke dua ruangan yang sangat berbeda.
Mereka harus menghadapi dua ruang kelas yang berbeda: satu gelap misterius dan satu terang.
Tanpa banyak penjelasan, mereka diminta masuk dan mengamati.
Di titik ini, banyak murid terlihat bingung. Beberapa saling melirik. Ada yang tertawa kecil, ada pula yang mulai serius.
Di sinilah momen “dikagetkan” itu terjadi.
Ternyata di ruangan-ruangan tersebut terdapat orang-orang dengan kisah nyata. Satu ruangan terdapat sosok misterius yang menceritakan pengalaman bagaimana bisa terlilit pinjaman online atau judi online. Di ruangan satu lagi, terdapat Hasna Nabila yang menceritakan perjuangannya hingga akhirnya bisa membangun bisnisnya dari hobi.
Di sekeliling ruangan tersebut juga banyak cerita-cerita nyata dari orang-orang yang sukses dan yang gagal dalam finansial karena pilihan-pilihanya. Hal ini memberikan konteks bahwa pendidikan keuangan bukan sekadar mengatur angka di buku tulis, melainkan realitas yang bisa berdampak besar kepada masa depan mereka.
Pengalaman ini sengaja dirancang sebagai hook—bukan untuk memberi jawaban, tetapi untuk memunculkan rasa penasaran. Dari sini, pembelajaran tidak dimulai dari “ini teori keuangan”, melainkan dari rasa ingin tau.
Dan dari rasa ingin tau inilah proses belajar yang bermakna lahir.